Maksud dan Tujuan Seminar Tasawuf Imam Al-Ghazali di Hotel Borobudur

Pustakamuhibbin.club ~ Imam al-Ghazali (1058-1111 M) merupakan tokoh Islam yang memiliki pemikiran komprehensif dan memiliki pengaruh besar di dunia Islam. Pemikiran al-Ghazali meliputi semua aspek keilmuan mulai dari ilmu kalam (teologi), fiqih, filsafat hingga tasawuf sehingga Imam al-Ghazali memperoleh gelar keilmuan sebagai mutakalimin, fuqaha, filosuf dan sufi. Al-Ghazali meninggal pada tanggal 19 Desember 1111 M di kota kelahirannya Thus, wilayah Khurasan (Iran).

Al-Ghazali adalah putera seorang tokoh sufi bernama Muhammad bin Muhammad bin Ahmad ath-Thusi (ath-Thabaqat al-Kubra, Juz 3, 416). Sedang guru pertamanya bernama Ahmad bin Muhammad ar-Razikani. Perjalanan keilmuannya sangat menarik, mempelajari bahasa Arab, bahasa Persi, fiqh, riwayat hidup para wali, syair-syair cinta, al-Qur’an dan al-Hadits. Al-Ghazali dalam belajar berpindah-pindah sekolah, tapi yang terkenal di Madrasah Nizamiyah pada era Imam al-Haramain al-Juwaini di Naisabur. Di Nizamiyah itulah al-Ghazali belajar ilmu mantiq, ushul fiqh dan ilmu Kalam.

Kemasyhuran Imam al-Ghazali terkenal luas hingga diundang oleh Perdana Menteri Nizam al-Muluk dan akhirnya menjadi guru besar di Madrasah (Universitas) Nizamiyah Baghdad. Potensi kecerdasan Imam al-Ghazali sudah nampak sehingga dipercaya menjadi dosen di Nizamiyah. Imam al-Ghazali menulis sekitar 100 buku baik yang berbahasa Arab maupun yang berbahasa Persi, meliputi ilmu kalam, fiqh, tasawuf, filsafat, akhlaq dan autobiografi. Diantara karya Imam al-Ghazali yang terkenal yaitu Maqashid al-Falasifah (tujuan para filosuf), Tahafut al-Falasifah (kerancuan para filosuf), al-Munqidz min adh-Dhalal (penyelamat dari kesesatan) dan Ihya ‘Ulum ad-Din (menghidupkan ilmu agama). Selain itu, Imam al-Ghazali memiliki karya khusus ajaran tasawuf falsafi dalam kitab Misykat al-Anwar, namun kitab ini dikhususkan bagi murid-muridnya yang sudah mencapai tingkatan muntahi. Karena itu, sangat layak Imam al-Ghazali memperoleh predikat dan kedudukan sebagai Hujjat al-Islam.

Namun diantara disiplin ilmu yang paling menonjol bagi Imam al-Ghazali yaitu dunia tasawuf dengan karya magnum opus kitab Ihya ‘Ulum ad-Din. Kitab ini sebagai buah dari pergulatan pemikiran Imam al-Ghazali sebelumnya dalam bidang kalam, filsafat dan fiqih, maka tasawuf bagi Imam al-Ghazali sebagai oase dari kegersangan spiritual yang dirasakan akhirnya mengantarkan Imam al-Ghazali pada pencarian kebenaran tidak melalui panca indera dan akal, tetapi melalui olah batin.

Ternyata dalam pengembaraannya al-Ghazali menemukan kepuasan batin, menemukan jati dirinya dalam dunia tasawuf. Setelah Imam al-Ghazali melakukan khalwat sebagai praktik nyata ilmu tasawuf Imam al-Ghazali memperoleh pencerahan Ilahiyah sehingga semua permasalahn yang muncul di tengah kondisi sosial mampu dijawab dalam kitab Ihya ‘Ulum ad-Din, seperti kritik terhadap degradasi moral masyarakat yang mengikuti hawa nafsu dn cinta dunia (hub ad-dunya), krtitik terhadap para ulama yang lebih suka mendekati para penguasa untuk tujuan duniawi, mewabahnya praktik ibadah yang berbasis fiqih oriented yang menyebabkan kekeringan spiritual dan maraknya penyimpangan ajaran tasawuf yang pantheistik. Ketika terjadi pro kontra soal tasawuf yang mengikuti ajaran ittihad dan hulul yang mengabaikan praktik fiqih maka Imam al-Ghazali berhasil mendamaikan antara tasawuf yang berlandasakan syariat sehingga tasawuf dapat diterima oleh umat Islam.

Dalam hal teologi, al-Ghazali juga berjasa dalam menyebarkan dan mengembangkan ajaran Asy`ariyah yang dianut oleh sebagian besar Muslim Sunni. Pada masa tuanya Imam al-Ghazali mendirikan sekolah khusus para calon sufi di kota Thus, hingga wafatnya. Begitu besar jasa Imam al-Ghazali dalam dunia Islam sehingga Imam al-Ghazali dianggap sebagai salah satu tokoh terpenting setelah Nabi Muhammad Saw. karena begitu besarnya pengaruh dan perannya dalam menata ajaran dan pemikiran yang berkembang kembali pada ajaran Islam.

Pengaruh ajaran tasawuf Imam al-Ghazali tersebar luas baik di dunia Islam maupun Barat. KitabIhya ‘Ulum ad-Dinmenjadi rujukan utama para pengkaji tasawuf dan thariqah mulai di negara-negara Timur Tengah, Afrika, Eropa, Asia hingga Indonesia. Di Amerika Serikat ada Zaytuna College yang dipimpin Syaikh Hamzah Yusuf secara rutin mengkaji ajaran tasawuf, di Perancis ada komunitas pengkaji ajaran tasawuf Imam al-Ghazali, di Damaskus ada zawiyah al-Ghazali yang rutin mengkaji kitab Ihya ‘Ulum ad-Din hingga saat ini, begitu juga di Mesir, Istambul dan beberapa kota lainnya yang khusus mengkaji ajaran tasawuf Imam al-Ghazali. Bahkan organisasi terbesar Nahdhatul Ulama di Indoensia menjadikan ajaran Imam al-Ghazali sebagai dasar utama dalam bertasawuf sehingga di Pesantren-pesantren kitab Ihya ‘Ulum ad-Din dikaji oleh para santri setelah menyelesaikan semua kitab. Hal ini menunjukkan bukti nyata peran dan kontribusi besar Imam al-Ghazali.

Di dunia modern saat ini masyarakat sedang terjangkiti perilaku dan gaya hidup materialisme, hedonisme dan konsumerisme, yaitu sikap hidup yang menjadikan materi sebagai tujuan utamanya, bergaya hidup metropolis dengan berfoya-foya dan boros. Dampak dari sikap hidup yang demikian akan menyuburkan sifat serakah terhadap harta sehingga akan menghalalkan segala cara untuk memperolehnya seperti melakukan korupsi, menipu dan berbohong. Mereka mengejar kebahagiaan semu demi memuaskan hasrat duniawinya. Namun mereka akan mudah galau, stress, depresi saat muncul permasalahan dalam hidupnya. Maka dalam kondisi yang demikian, peran ajaran tasawuf al-Ghazali sangat bermanfaat untuk mengobati jiwa-jiwa yang sakit dan mengalami masalah.

Selain itu, yang menjadi tantangan dunia global saat ini yaitu merebaknya kelompok-kelompok radikal ektrimis yang melakukan teror atas nama agama. Kelompok-kelompok radikal saat ini sudah menyebar di belahan dunia baik di Barat, Timur Tengah, Asia maupun Indonesia. Mereka sebenarnya orang-orang awam agama yang memahami Islam sangat dangkal dan sebatas kulit. Semangat keagamaannya tidak diimbangi dengan pemahaman ajaran agama yang konfrehensif sehingga muncul dan perilaku radikal. Hal ini diakibatkan dari pemahaman agama yang sebatas fiqih oriented. Maka untuk mencari solusinya untuk menyembuhkan penyakit radikalisme ini yaitu belajar dan memahami ajaran tasawuf al-Ghazali. Dengan memahami ajaran tasawuf al-Ghazali maka akan terbuka pemahaman keagamaan yang utuh sehingga virus-virus radikalisme dapat tercerabut dari akarnya.

Begitu besar peran dan kontribusi ajaran tasawuf Imam al-Ghazali dalam menyembuhkan penyakit-penyakit kejiwaan manusia sejak abad ke-12 M hingga era modern saat ini baik penyakit materialisme, hedonisme, konsumerisme maupun radikalisme, maka sudah selayaknya dunia memberikan penghormatan yang layak kepada Hujjat al-Islam Imam al-Ghazali yang dimakamkan di Thus Iran.

Tema Seminar “Peran Tasawuf Imam al-Ghazali dalam Membangun Peradaban Dunia yang Damai dan Harmoni”. Tujuan Seminar ini adalah:

  • Merespon dinamika global yang sarat dengan konflik melalui pendekatan spiritual.
  • Mencari titik temu dari perbedaan pemahaman keislaman umat Islam sedunia, sesuai prinsip “Al-Islamu yuwahhid wala yufarriq” (Islam itu menyatukan bukan mencerai-berai).
  • Mengajak umat untuk supaya lebih memahami aspek substansi dalam ajaran Islam.
  • Membangun harmoni sosial sesama umat manusia sebagai aktualisasi dari Islam sebagai rahmatan lil-‘alamin.
  • Menjalin kerjasama dunia Islam dalam membangun peradaban dunia bermartabat.
  • Mengaktualisasikan pemikiran Imam al-Ghazali dalam merespon persoalan dunia global dengan menjaga keseimbangan praktik syariat dan hakikat.
  • Secara khusus untuk bangsa Indonesia pentingnya menyebarkan semangat toleransi, menjaga kebhinnekaan dalam rangka untuk mengaktualisasikan cita-cita dan keinginan luhur bangsa Indonesia melawan fenomena radikalisme, intoleransi dan kelompok anti Pancasila.
  • Memantantapkan Indonesia sebagai dar al-‘ahd wa ash-shulh dengan berpegang teguh pada prinsip-prinsip Islam Nusantara.

Yang menjadi pelaksana seminar adalah Yayasan Amanah Kita, Jam’iyyah Ahlith Thariqah al-Mu’tabarah an-Nahdliyyah (JATMAN), Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) dan Universitas Islam Assyafi’iyyah. Target yang ingin dicapai adalah meredakan tensi konflik khususnya di dunia Islam dengan meretas kembali jalinan ukhuwah Islamiyah dalam rangka membangun peradaban dunia yang damai dan harmoni. (Sumber: seminarghazali.com)

Tags: