Habib Luthfi Bin Yahya: Rahasia di Balik Rasa Khawatir

Pustakamuhibbin.club ~ Masih melanjutkan bab Ma’rifat dari kitab Jami’ Ushul fi al-Auliya’. Ma’rifatullah adalah mengenal Allah Swt. Sejauh mana kita mengenal Allah Swt. dan sejauh mana kita mengerti kepada Allah Swt. Kalau kita mengenal Allah Swt. akan mengenal semua apa yang diciptakan oleh Allah Swt. Bilamana kita kenal apa yang telah diciptakan oleh Allah Swt., pasti akan menemukan perbedaan.

Perbedaannya di mana? Perbedaan mana al-Khaliq (pencipta) dan mana yang dikatakan al-Makhluq (makhluk). Tidak mungkin makhluk itu akan berdiri sendiri tanpa al-Khaliq. Maka selain Allah disebut hawadits, adalah barang baru. Artinya semula tidak ada kemudian diciptakan oleh Allah Swt., baru berada.

Kalau selain Allah, kata “tidak ada” mustahil kata tidak ada akan berdiri sendiri tanpa ada yang mentiadakan . Begitu juga kata “ada”, mustahil kata ada akan berdiri sendiri tanpa ada yang mengadakan. Sedangkan yang mengadakan tidak perlu diadakan dan tidak perlu bermula karena sudah berada; al-awwalu bila ibtida’ wal akhiru bila intiha’, jami’ shifatil ‘ulya wal ‘izzati wal ‘udzmati wal kibriya’.

Allah Ta’ala tidak memerlukan pertolongan hambaNya. HambaNya dan makhlukNya yang memerlukan pertolongan al-Khaliq. Maka apabila ma’rifat kita semakin tinggi, tambah juga keyakinan (iman) kita kepada Allah Swt. Dengan menambah keyakinan hilanglah rasa kekhawatiran-kekhawatiran kita kepada Allah Swt.

Tapi mengapa kita selalu diberi khawatir oleh Allah Swt.? Itu dijadikan perantara untuk kita. Khawatir ada satu hal, kelemahan iman kita. Adalah kekurangan kita, keyakinan kita kepada Allah Swt. masih ragu –bukan ragu atas keberadaanNya-, jangan salah paham! Kita mau berdoa, “diberi tidak ya? diberi tidak ya?” Lha itu masih khawatir demikian. “Ya Allah, ya Rabb bacaan ini sudah saya baca. Kata kiai, kata guru saya seminggu, tapi kira-kira seminggu kurang sehari berhasil tidak ya?” Terus timbul keraguan, kekhawatiran.

Tapi kekhawatiran bagi orang ahli ma’rifat berbeda lagi. Kekhawatiran yang diberikan oleh Allah Ta’ala kepada ahli ma’rifat justeru adanya kekhawatiran untuk mendekat lebih dekat dan lebih dekat. Kalau kekhawatiran orang awam seperti saya, khawatir untuk lebih mendekat tetapi kalau sudah berhasil lupa. Itu pekerjaan saya, panjenengan tidak tahu saya.

Kalau orang-orang yang ‘arifin (ahli ma’rifat), semakin diberi semakin takut dan semakin mengejar kepada Si Pemberi. Bukan pemberianNya yang dikejar. Meningkat yang lebih tinggi lagi –ahli ma’rifat yang mendapatkan karomah- para auliya Allah kalau mengeluarkan atau diberi karomah dia semakin malu kepada Allah Swt.

Bukan seperti saya, kalau seperti saya mesti. Umpamanya saya pernah ngomong, “Awas terjadi begini”, eh nyata betul Allah memberi ijabah omongan itu terbukti. Otomatis iklan, “Betul tidak omongan saya”. Dapat iklan, dapat makelar, luar biasa. Nanti ketemu lagi, tambah lagi,“Saya dulu kan ngomong begini, betul tidak? terjadi tidak? Terjadi! Betul tidak? Betul!” Terus tambah kipas anginnya, semakin menjadi-jadi. Lama-kelamaan ‘hoek’, bukan hoak tapi hoek, berarti masuk angin perlu dikerok orang yang seperti itu.

Nah inilah penyakit luar biasa. Orang-orang ahli ma’rifat takut, semakin malu kepada Allah Swt. Dan itu bukan tujuan orang-orang saleh ibadah bertaqarrub kepada Allah untuk menjadi waliNya, atau supaya diberi karomah, itu bukan tujuan. Tujuannya apa? Bagaimana menempatkan ke-kawula-nan (kehambaan) di hadapan Allah. Sadar dirinya selaku kawula, apa yang harus dilakukan terhadap Tuannya, apa yang serba menunggu perintah, atau sadar terhadap diri sendiri sedikit demi sedikit. Banyak lagi kalau saya kupas.

Nah bagi orang awam, dengan melihat kejadian atas apa yang kami lakukan, ada dua; adakalanya menambah keyakinan dan adakalanya tidak, tergantung ma’rifatnya pula. Kalau dia untuk pendekatan diri kepada Allah dan untuk menambah pahala dengan ikhtiarnya, dibuka pintunya oleh Allah Swt. Tambah yakin dan tambah yakin.

Tapi adakalanya, yang tidak atau kurang ma’rifatnya, malah terkadang ngundat-undat/ngelehake (meragukan) Allah Swt. “Saya sudah Tahajjud malam, wiridan saya baca semuanya, ijazah Yasin 40 hari juga saya baca, baca semuanya. Apa sih kok belum diijabah-ijabah?” Kesalahan saya itu apa? Yo seabrak-abrak, kok tanya kesalahan saya apa? Aneh itu, aneh bin ajaib namanya.

Nah pentingnya ma’rifat di sini untuk menepis apa-apa yang akan mengotori hati kita yang akibatnya menumbuhkan kesyirikan-kesyirikan. Karena kurangnya ma’rifat kepada Allah Swt. akhirnya melenturkan keimanan dan keyakinannya kepada Allah Swt. []

(Disampaikan oleh Maulana Habib M. Luthfi Bin Yahya Pekalongan, Jum’at Kliwon 5 Januari 2018 M. Simak videonya di sini: https://youtu.be/j30yCmkNFvA).

Tags: