Habib Ahmad Jindan; Yang Menistakan Islam adalah Ummat Islam Sendiri!

Pustakamuhibbin.club ~ Tahu tidak selain mendamaikan kelompok yang bertikai, orangtua-orangtua kita, para auliya dan para shalihin juga “at-ta’amim ‘an ‘uyubinnas wasatriha”, tutup mata tidak mau mencari-cari dan mengerok-kerok kesalahan orang. Demi Allah, kadang-kadang merasa keadaan kita di jaman sekarang Islam yang aneh. Tidak tahu Islam dari mana. Fulan bikin salah dibeberin di medsos, “Daftar Kesalahan Fulan”. Kita sering menerima broadcast yang seperti itu.

Kita melihat begini bingung, karena orang-orang yang mengirimkan (broadcast) beginian adalah orang-orang yang memakai pakaian ilmu. Ke mana ilmunya? Apakah Nabi Saw. mengajarkan yang begini? Kita heran. Menyebarkan beginian atas nama Islam lhoh. Kita bingung. Wah mengagumkan sekali agama Islam yang kita agung-agungkan ini, Islam rahmatan lil‘alamin, begini modelnya? Masya Allah… indah banget itu Islam. Baru deh. Kasihan orangtua-orangtua kita tidak mendapat kemulian seperti ini. Jaman sekarang kita dapatin; atas nama Islam membeberkan kesalahannya orang-orang.

Mau dia penguasa yang dibeberin kesalahannya, ataukah rakyat maupun ulama, haram hukumnya! Wallahi, haram haram haram! Cuma kita bingung ini semua dibeberkan atas nama Islam dan atas nama ilmu. Makanya tahu tidak, yang menjadikan umat Islam hancur bukan orang luar tapi umat Islam sendiri. Yang bikin Islam hancur berantakan kita sendiri bukan orang lain. Bukan penistaan dari kaum kafir. Kita yang bikin hancur Islam kita sendiri. Nabi yang bilang begitu. Mereka (kaum kafir) tidak mampu menghancurkan Islamnya kita kalau bukan lewat tangan-tangan kita sendiri.

Makanya selalu saya ulang-ulang, asy-Syaikh M. Said Ramadhan al-Buthiy beliau mengatakan, “Ana la adriy al-Islam alladzi nudafi’ ‘an kulli yaum haqqul Islam bihaqqi dzatih alladzi dafa’ahus shahabah.” (Saya tidak tahu ini Islam yang kita bela saat ini apakah Islam yang sama yang dulu dibela para sahabat Nabi? Saya tidak tahu. Ataukah hanya namanya saja yang sama tapi hakikatnya berbeda). Dan itulah kenyataannya memang berbeda.

Ini kita baca, bukan saya (Habib Ahmad Jindan) yang ngomong, tapi ini al-Imam asy-Sya’roni yang ngomong sampai hari ini. Sifatnya para auliya dan para ulama yang lain dari ini hanya pengakuan, siluman dan palsu. Beliau (Imam Sya’roni) bilang sifatnya para auliya itu “at-ta’amim ‘an ‘uyubinnas wasatriha”, tutup mata dari kesalahan orang lain dan berusaha untuk menutupinya.

Tapi ini tidak, dari mana datangnya Islam yang beginian? Wallahi terkadang kita tidak tahu. Tahu tidak mengapa? Gara-gara dunia yang sudah menggerogoti hati orang Islam sehingga menghalalkan segala cara dan mengatasnamakan Islam. Gara-gara kekuasaan dan politik, yang dikatakan oleh orangtua-orangtua kita “as-siyasah khasyasyah”, politik itu ibarat seperti kotoran yang najis. Gara-gara urusan politik, ajaran Allah kita sendiri yang menistakannya.

Tags: