Terjemah Kitab Adabul ‘Alim Wal Muta’allim Karya Hadhratus Syaikh KH. M. Hasyim Asy’ari [Bab 2]

BAB II; Adab Pelajar pada Dirinya Sendiri

Etika pelajar terhadap dirinya sendiri ada 10 macam, yaitu: Pertama, harus mensucikan hatinya dari segala sesuatu yang menipu, kotor, dendam, hasud, keyakinan yang tidak baik dan budi pekerti yang tidak baik. Hal itu dilakukan supaya ia pantas untuk menerima ilmu, menghafalkannya, meninjau kedalaman maknanya dan memahami makna yang tersirat.

Kedua, harus memperbaiki niat dalam mencari ilmu, seperti berniat untuk mencari ridha Allah Swt., mengamalkannya, menghidupkan syariat, menerangi hatinya, menghiasi batinnya dan  mendekatkan diri kepada Allah Swt. Tidak bertujuan untuk memperoleh tujuan-tujuan duniawi, misalnya agar memperoleh kepemimpinan, jabatan, harta benda, mengalahkan teman saingan, dihormati masyarakat dan lain sebagainya.

Ketiga, harus berusaha sesegera mungkin memperoleh ilmu di waktu masih belia dan memanfaatkan sisa umurnya. Jangan sampai tertipu dengan menunda-nunda belajar dan terlalu banyak berangan-angan. Karena setiap jam akan melewati umurnya yang tidak mungkin diganti ataupun ditukar. Seorang pelajar harus memutuskan urusan-urusan yang merepotkan yang mampu ia lakukan, juga perkara-perkara yang bisa menghalangi kesempurnaan mencari ilmu,  serta mengerahkan segenap kemampuan dan bersungguh-sungguh dalam menggapai keberhasilan. Maka sesungguhnya hal itu akan menjadi pemutus jalan proses belajar.

Keempat, harus menerima apa adanya (qana’ah) berupa segala sesuatu yang mudah ia dapat, baik itu berupa makanan atau pakaian dan sabar atas kehidupan berada di bawah garis kemiskinan yang ia alami ketika dalam tahap proses mencari ilmu, serta memfokuskan hati akibat terlalu banyak berangan-angan dan keinginan, sehingga sumber-sumber hikmah akan mengalir ke dalam hati. Imam asy-Syafi’i berkata, “Orang yang mencari ilmu tidak akan bisa merasa bahagia apabila ketika mencari ilmu disertai dengan hati keluhuran dan kehidupan yang serba cukup. Akan tetapi orang-orang yang mencari ilmu dengan perasaan hina, rendah hati, kehidupan yang serba sulit dan menjadi pelayan para ulama, dialah orang yang bisa merasakan kebahagiaan.”

Kelima, harus bisa membagi seluruh waktu dan menggunakannya setiap kesempatan dari umurnya, sebab umur yang tersisa itu tiada terbanding nilainya. Waktu yang paling ideal dan baik digunakan oleh para pelajar adalah: waktu Sahur digunakan untuk menghafalkan, pagi digunakan untuk membahas pelajaran, tengah hari digunakan untuk menulis dan malam digunakan untuk meninjau ulang dan mengingat pelajaran. Sedangkan tampat yang paling baik digunakan untuk menghafalkan adalah di dalam kamar dan setiap tempat yang jauh dari perkara yang bisa membuat lupa. Tidak baik menghafalkan pelajaran di depan tumbuh-tumbuhan, tanaman-tanaman yang hijau, di tepi sungai dan di tempat-tempat yang ramai.

Keenam, harus mempersedikit makan dan minum, karena apabila perut dalam keadaan kenyang maka akan menghalangi semangat ibadah dan badan menjadi berat. Salah satu faedah mempersedikit makan adalah badan menjadi sehat dan mencegah penyakit tubuh. Karena penyebab hinggapnya penyakit adalah terlalu banyak makan dan minum, sebagaimana yang dikatakan dalam sebuah syair: “Sesungguhnya penyakit yang kau saksikan itu kebanyakan # Timbul dari makanan dan minuman.” Sedangkan sehatnya hati itu terhindar dari perbuatan lacur, melampaui batas dan sombong. Dan tidak tampak seorangpun dari para kekasih Allah, para pemimpin ummat dan para ulama yang terpilih yang bersifat atau mempunyai ciri seperti itu; banyak makan dan tidak akan terpuji karenanya. Karena banyak makan yang dipuji hanya pada binatang yang tidak berakal dan dipersiapkan untuk bekerja.

Ketujuh, harus memutuskan dirinya dengan sifat wira’i (menjaga diri dari perbuatan yang bisa merusak harga diri) serta berhati-hati dalam setiap keadaan, memperhatikan kehalalan baik itu berupa makanan, minuman, pakaian dan tempat tinggal dan setiap sesuatu yang ia butuhkan, agar hatinya terang dan pantas untuk menerima ilmu, cahaya  ilmu dan mengambil kemanfaatan ilmu. Seyogyanya pencari ilmu juga menggunakan kemudahan-kemudahan (rukhshah) pada tempatnya, ketika dibutuhkan dan karena adanya sebab-sebab. Karena Allah menyukai kemurahan-kemurahannya dilaksanakan sebagaimana Dia menyukai ketetapan-ketetapanNya dilaksanakan.

Kedelapan, harus mempersedikit makan makanan yang menjadi salah satu sebab tumpulnya otak dan lemahnya panca indra, seperti buah apel yang masam, kacang sayur, minum cuka. Begitu juga makanan yang menimbulkan banyak dahak yang dapat mempertumpul akal fikiran dan memperberat badan, seperti terlalu banyak minum susu, makan ikan dan lain sebagainya. Seyogyanya juga ia menjauhkan diri dari hal-hal yang menyebabkan lupa secara khusus seperti memakan makanan yang telah dimakan tikus, membaca tulisan di batu nisan kuburan, masuk di antara dua ekor unta yang ditarik dan menjatuhkan kutu dalam keadaan hidup.

Kesembilan, harus berusaha mengurangi tidur selama tidak menimbulkan bahaya pada tubuh dan akal pikirannya. Jam tidur tidak boleh melebihi dari 8 jam dalam sehari semalam. Dan itu sepertiga dari waktu satu hari (24 jam). Jika keadaannya memungkinkan untuk beristirahat kurang dari sepertiganya waktu dalam sehari semalam maka ia dipersilakan untuk melakukannya. Apabila ia merasa terlalu lelah, maka tidak ada masalah untuk memberikan kesempatan beristirahat terhadap dirinya, hatinya dan penglihatannya dengan cara mencari hiburan, bersantai ke tempat-tempat hiburan sekiranya pulih kembai dan tidak menyia-nyiakan waktu.

Kesepuluh, harus meninggalkan pergaulan, karena meninggalkannya itu lebih penting dilakukan bagi pencari ilmu. Apalagi bergaul dengan lawan jenis khususnya jika terlalu banyak bermain dan sedikit menggunakan akal fikiran, karena watak dari manusia adalah banyak mencuri kesempatan. Bahaya dari pergaulan adalah menyia-nyiakan umur tanpa guna dan berakibat hilangnya agama, apabila bergaul bersama orang yang tidak beragama. Jika ia membutuhkan orang yang bisa menemaninya, maka orang itu harus saleh, kuat agamanya, takut kepada Allah, wira’i, bersih hatinya, banyak berbuat kebaikan, sedikit berbuat kejelekan, memiliki harga diri yang baik, sedikit perselisihannya. Jika ia lupa, maka temannya mengingatkan, dan bila ia ingat, maka berarti temannya telah menolongnya. []

Tags: