Terjemah Kitab Adabul ‘Alim wal Muta’allim Karya Hadhratus Syaikh KH. M. Hasyim Asy’ari [Bab 1]

Pustakamuhibbin.clubBAB 1; Keutamaan Ilmu dan Ulama serta Keutamaan Belajar dan Mengajar

Allah Swt. berfirman: “Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman diantara engkau dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat.” (QS. al-Mujadalah ayat 10). Artinya Allah akan mengangkat derajat para ulama sebab mereka sanggup memadukan antara ilmu dan amal (pengamalannya).

Ibnu Abbas Ra. berkata, “Derajat ulama itu jauh diatas orang-orang mukmin dengan selisih 700 derajat. Sedangkan jarak antara dua derajat kira-kira perjalanan lima ratus tahun.”

Allah Swt. berfirman: “Allah menyatakan bahwasanya tidak ada Tuhan melainkan Dia (yang berhak disembah) yang menegakkan keadilan. Para malaikat dan orang-orang yang berilmu (juga menyatakan yang demikian itu)…”(QS. Ali Imran ayat 18). Ayat ini menjelaskan bahwa Allah memulai firmanNya dengan menyebut Dzat sendiri, lalu kedua menyebut malaikat dan ketiga menyebut orang-orang yang memiliki ilmu pengetahuan. Cukuplah bagimu dengan bukti ini untuk memperoleh kemuliaan, keutamaan dan keagungan.

Allah Sawt. berfirman: “Sesungguhnya yang takut kepada Allah dari hamba-hambaNya adalah para ulama.” (QS. Fathir ayat 28).

Allah Swt. juga berfirman:“Sesungguhnya orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh mereka itu adalah sebaik-baiknya makhluk. Balasan mereka disisi Tuhan mereka adalah surga Adn yang mengalir di bawahnya sungai-sungai. Mereka kekal di dalamnya selama-lamanya. Allah ridha terhadap mereka dan merekapun ridha kepadaNya. Yang demikian itu adalah (balasan) bagi orang yang takut kepada Tuhanya.” (QS. al-Bayyinah ayat 7-8).

Dua ayat di atas menetapkan bahwa para ulama adalah orang-orang merasa takut kepada Allah. Orang yang merasa takut kepada Allah adalah termasuk sebaik-baik makhluk. Dengan demikian dapat diambil kesimpulan bahwa mereka para ulama adalah sebaik-baik makhluk.

Rasulullah Saw. bersabda, “Barangsiapa yang dikehendaki baik oleh Allah, maka Allah akan memberikan kefahaman kepadanya terhadap ilmu agama.”

Rasulullah Saw. juga bersabda, “Ulama adalah pewaris para nabi. Cukuplah bagimu dengan derajat ini untuk memperoleh sebuah keagungan dan kebanggaan. Dan (cukuplah bagimu) dengan tingkatan ini untuk memperoleh kemuliaan dan panggilan yang agung. Ketika sudah tidak ada lagi tingkatan di atas tingkat kenabian, maka tidak ada satupun kemuliaan yang melebihi kemuliaan warisan tingkatan tersebut.”

Adapun pangkal dari ilmu adalah mengamalkannya. Karena pengamalan adalah buah dari ilmu, fungsi dari umur dan bekal akherat nanti. Barangsiapa memperoleh ilmu, maka ia akan bahagia. Barang siapa tidak memperolehnya, maka ia termasuk golongan orang-orang yang merugi. Suatu ketika Rasulullah Saw. disebutkan ada dua orang laki-laki yang pertama ahli ibadah dan yang kedua adalah ahli ilmu. Kemudian Rasulullah bersabda, “Keutamaan orang yang berilmu dibandingkan dengan orang yang ahli ibadah adalah seperti keutamaanku melebihi kalian semua.”

Rasulullah Saw. bersabda, “Barangsiapa berjalan di jalan mencari ilmu maka Allah akan menjadikannya orang yang berjalan di jalan dari jalan-jalannya surga.”

Rasulullah Saw. bersabda, “Mencari ilmu adalah kewajiban bagi setiap orang Islam laki-laki dan perempuan. Orang yang mencari ilmu itu akan dimintakan ampun oleh setiap sesuatu yang ada di muka bumi ini sampai ikan-ikan yang berada di lautan.”

Rasulullah Saw. bersabda, “Barangsiapa berangkat pergi di pagi hari dengan tujuan mencari ilmu, maka para malaikat akan mendoakannya dan diberkahi kehidupannya.”

Rasulullah Saw. bersabda,“Barangsiapa berangkat di pagi hari ke masjid dengan tujuan hanya untuk mempelajari kebaikan dan atau untuk mengajarkan kebaikan, maka ia memperoleh pahala seperti pahalanya orang yang berhaji secara sempurna.”

Rasulullah Saw. bersabda, “Orang yang mengajarkan ilmu pengetahuan dan orang yang mempelajarinya seperti ini dari ini.”Nabi mengumpulkan antara dua jari telunjuk, jari yang berdampingan merupakan dua jari yang saling bersekutu dalam hal kebaikan. “Dan tidak ada satupun kebaikan di kalangan seluruh manusia melebihi proses belajar dan mengajar.”

Rasulullah Saw. bersabda,“Jadilah engkau pengajar atau pelajar atau pendengar atau pencinta terhadap ilmu pengetahuan. Dan janganlah engkau jadi orang kelima, karena engkau akan binasa.”

Rasulullah Saw. bersabda, “Pelajarilah ilmu pengetahuan dan ajarkanlah ilmu itu kepada manusia lainnya.”

Rasulullah Saw. bersabda, “Apabila kalian melihat taman surga maka mampirlah.” Sahabat bertanya, “Wahai Rasulullah apa yang dimaksud dengan taman surga itu?” Beliau Saw. menjawab, “Taman surga itu adalah perkumpulan dzikr (diskusi atau pertukaran ilmu).”Imam ‘Atha menjelaskan bahwa yang dimaksud “taman surga” itu adalah majelis-majelis yang digunakan untuk membahas masalah halal dan haram; mengajarkan tata cara jual beli, mengajarkan tata cara melakukan shalat, mengajarkan tata cara mengeluarkan zakat, mengajarkan tata cara melakukan ibadah haji, mengajarkan tata cara melakukan pernikahan serta talak, dan lain sebagainya.

Rasulullah Saw. bersabda, “Pelajarilah ilmu dan amalkanlah ilmu itu.”

Rasulullah Saw. bersabda, “Pelajarilah ilmu dan jadilah kalian bagian dari ahli ilmu.”

Rasulullah Saw. bersabda, “Pada hari kiamat nanti akan ditimbang tinta-tinta (karya-karya) para ulama beserta darah orang-orang yang mati syahid.”

Rasulullah Saw. bersabda, “Tidaklah Allah disembah dengan sesuatu yang lebih utama daripada faham dalam ilmu agama. Karena sesungguhnya satu orang yang paham ilmu agama itu lebih berat bagi setan daripada seribu orang yang ahli ibadah (tanpa paham ilmu agama).”

Rasulullah Saw. bersabda,“Ada tiga orang yang berhak memberikan syafa’at kepada orang lain nanti pada hari kiamat, yaitu: para nabi, para ulama dan para syuhada.”

Dan diriwayatkan, bahwa para ulama nanti pada hari kiamat berdiri di atas mimbar yang terbuat dari cahaya.

Imam al-Qadhi Husain menukil sebuah hadits dalam permulaan catatan kakinya, sesungguhnya Rasulullah Saw. telah bersabda: “Barangsiapa yang mencintai ilmu dan para ulama, maka semua kesalahannya tidak akan ditulis selama hidupnya.”

Imam al-Qadhi Husain juga mengatakan, telah diriwayatkan bahwa Nabi Saw. bersabda, “Barangsiapa shalat di belakang orang alim, maka seakan-akan ia shalat di belakang seorang nabi. Dan barangsiapa shalat di belakang nabi, maka dosa-dosanya diampuni oleh Allah.”

Dalam hadits yang diriwayatkan oleh Abi Dzar Ra. disebutkan bahwa, “Menghadiri tempat-tempat yang digunakan untuk dzikr (diskusi ilmiah) itu lebih utama daripada melakukan shalat seribu rakaat (tanpa ilmu), melayat seribu jenazah dan menjenguk seribu orang sakit.”

Umar bin Khatthab Ra. berkata,“Seorang laki-laki tentunya akan keluar dari rumahnya, sementara dia mempunyai banyak dosa yang menyamai besarnya gunung Tihamah. Ketika ia mendengar orang alim, maka ia merasa takut dan kemudian ia bertaubat dari perbuatan dosanya, kemudian ia kembali ke rumahnya dalam keadaan bersih dari dosa. Oleh karena itu janganlah kalian berpisah dari tempat-tempat para ulama. Karena sesungguhnya Allah tidak menciptakan sejengkal tanahpun di muka bumi ini yang lebih mulia dibanding majelis-majelisnya para ulama.”

Imam asy-Syarmasahi al-Maliki menukil sebuah hadits dalam pengantar kitabnya Nadzm ad-Durar, diriwayatkan dari nabi Saw. yang bersabda, “Barangsiapa yang mengagungkan orang alim, maka sesungguhnya ia telah mengagungkan Allah Swt. Dan barangsiapa yang telah meremehkan orang alim, maka berarti ia telah meremehkan Allah Swt. dan RasulNya.”

Sayyidina Ali Kw. berkata, “Cukuplah dengan ilmu kemuliaan dapat diperoleh, walaupun yang mengakui adalah seseorang yang tidak pernah melaksanaknnya. Dan cukuplah dengan kebodohan kehinaan itu diperoleh, walaupun seseorang berusaha membebaskan diri dari kebodohan itu.” Kemudian beliau melantunkan sebuah syair:

“Cukuplah kemuliaan diperoleh dengan ilmu walau yang mengakui (hanyalah) orang bodoh # Dan ia akan gembira jika suatu saat dinisbatkan pada ilmu.

Dan cukuplah kehinaan diperoleh dengan kebodohan, tetapi aku # Dijaga bila aku dinisbatkan kepadanya, dan aku akan marah.”

Ibnu az-Zubair berkata, “Abu Bakar pernah mengirimiku surat saat aku sedang berada di Iraq: “Wahai anakku bergegangteguhlah pada ilmu pengetahuan, karena ketika engkau menjadi orang miskin maka ilmu itu akan menjadi harta dan ketika engkau menjadi orang kaya maka ilmu itu akan menjadi perhiasan”.”

Wahb bin Munabbih berkata, “Sesuatu yang diperoleh dari ilmu itu bermacam-macam. Kemuliaan, walaupun orang yang memilikinya itu orang yang rendahan. Keluhuran derajat, walaupun ia diremehkan. Dekat (di hati ummat), walaupun ia berada di daerah jauh. Kekayaan, walaupun ia miskin harta. Kewibawaan, walaupun ia orang yang tawadhu’ (merendahkan diri).”Kemudian ia melantunkan sebuah syair dalam memaknainya:

“Ilmu itu akan mengantarkan suatu kaum pada puncak kemuliaan # Orang yang mempunyai lmu itu akan terjaga dari kerusakan.

Hai orang yang mempunyai ilmu bersahajalah, jangan engkau mengotorinya # Dengan perbuatan-perbuatan yang merusak. Karena tidak ada pengganti terhadap sebuah ilmu.

Ilmu itu mengangkat sebuah rumah yang tak bertiang # Sedangkan bodoh itu merobohkan sebuah rumah yang penuh keluhuran dan kemuliaan.”

Abu Muslim al-Khaulani Ra. berkata, “Para ulama di bumi itu seperti bintang-gemintang yang bergelantungan di atas langit. Jika bintang-gemintang itu tampak bagi manusia, maka mereka mendapatkan petunjuk karenanya. Tetapi jika bintang-gemintang itu tampak suram, maka mereka kebingungan karenanya.”Kemudian ia melantunkan sebuah syair dalam memaknainya:

“Tempuhlah ilmu dimanapun ilmu itu berada # Dari ilmu, bukalah setiap orang yang mempunyai pemahaman terhadap ilmu.

Ilmu berguna untuk menerangi hati dari kebutaan # Dan menolong agama, dimana perintah menolong adalah kewajiban.

Pergaulilah para periwayat ilmu, dan temanilah para pilihan mereka # Maka, persahabatan dengan mereka adalah sebuah hiasan dan bercampur dengan mereka adalah sebuah keberuntungan.

Janganlah engkau palingkan kedua pandanganmu dari mereka, sesungguhnya mereka # Ibarat bintang-gemintang yang menjadi petunjuk, bila satu bintang hilang maka muncul bintang yang lain.

Demi Allah, seandainya ilmu tidak ada niscaya hidayah tak akan tampak # Dan tak tampak pula tanda-tanda perkara yang ghaib.”

Ka’b al-Akhbar Ra. berkata, “Seandainya pahala majelis ulama tampak pada manusia, niscaya mereka akan saling membunuh untuk memperebutkannya. Hingga para pemimpin meninggalkan pemerintahannya dan para bos pasar akan meninggalkan pasarnya.”

Sebagian ulama salaf berkata, “Sebaik-baik pemberian adalah akal, sedangkan sejelek-jelek musibah adalah kebodohan.”

Sebagian ulama salaf yang lain juga berkata, “Ilmu itu sebagai pengaman dari tipu daya setan, juga sebagai benteng dari tipu daya orang yang dengki dan sebagai petunjuk akal.”Kemudian ia melantunkan sebuah syair tentang maknanya:

“Alangkah bagusnya akal dan alangkah terpujinya orang yang berakal # Alangkah jeleknya kebodohan dan alangkah tercelanya orang bodoh.

Tak ada ucapan seseorang yang pantas dalam suatu perdebatan # Kebodohan itulah yang akan merusaknya pada hari nanti ketika ia ditanya.

Ilmu adalah sesuatu yang paling mulia yang diperoleh seseorang # Orang yang tidak berilmu, maka ia bukanlah laki-laki.

Wahai saudaraku, pelajarilah ilmu dan amalkanlah # Ilmu itu merupakan sebuah perhiasan bagi orang yang benar-benar telah mengamalkannya.”

Diriwayatkan dari Mu’adz bin Jabal Ra., ia berkata, “Pelajarilah ilmu pengetahuan, karena mempelajarinya adalah suatu kebajikan, mencarinya adalah suatu ibadah, mendiskusikannya adalah tasbih, membahasnya adalah jihad, menyerahkannya adalah upaya pendekatan diri kepada Allah Swt. dan mengajarkannya kepada orang yang tidak berilmu adalah sedekah.”

Fudhail bin Iyadh Ra. berkata, “Orang yang alim yang mengajarkan ilmunya kepada orang lain, maka ia akan diundang di kerajaan langit sebagai orang yang besar.”

Sufyan bin Uyainah Ra. berkata,“Kedudukan manusia yang paling tinggi disisi Allah adalah orang yang berada di antara Allah dan di antara hamba-hambaNya, mereka itulah para nabi dan para ulama.”

Ia juga mengakatan, “Di dunia ini seseorang tidaklah diberi sesuatu yang lebih utama daripada derajat kenabian. Dan tidak ada sesuatupun setelah derajat kenabian yang lebih utama daripada ilmu pengetahuan dan ilmu fiqh.” Kemudian ia ditanya,“Dari siapa perkataan ini?” Ia menjawab, “Dari seluruh para ahli fiqh.”

Imam asy-Syafi’i Ra. berkata, “Seandainya para ahli fiqh yang selalu mengamalkan ilmunya bukan sebagai kekasih (wali) Allah, niscaya Allah tidak akan mempunyai seorang wali.”

Ibnu al-Mubarak Ra. berkata, “Seseorang itu masih dianggap pandai selama ia mencari ilmu. Apabila seseorang menganggap dirinya pandai (alim), maka sungguh ia benar-benar bodoh”.

Imam Waki’ berkata, “Seorang laki-laki tidak akan dikatakan orang alim, sehingga ia mau mendengarkan orang yang lebih tua, mau mendengar orang yang sebanding dengannya, dan mau mendengar orang yang lebih muda darinya.”

Sufyan ats-Tsauri Ra. berkata, “Keajaiban-keajaiban itu merata ada di mana-mana. Dan di akhir zaman seperti sekarang ini lebih merata lagi, bencana yang menimpa manusia banyak. Sedangkan musibah masalah keagamaan sekarang ini lebih banyak lagi. Bencana-bencana itu merupakan peristiwa yang besar, namun kematian para ulama merupakan peristiwa yang lebih besar. Sesungguhnya hidup orang alim itu adalah rahmat bagi umat, sedangkan kematian orang alim menyebabkan suatu cacat di dalam Islam.”

Dalam kitab Shahih Bukhari dan Muslim ada sebuah hadits yang diriwayatkan dari Abdullah bin Amr bin al-‘Ash Ra. ia berkata, “Aku mendengar Rasulullah Saw. besabda: “Sesungguhnya Allah tidak mengambil ilmu dengan cara mencabut ilmu tersebut dari manusia. Akan tetapi Allah mencabut ilmu dari muka bumi ini dengan cara mencabut nyawa para ulama. Hingga jika seorang alim sudah tak tersisa, masyarakat mengangkat para pemimpin yang bodoh. Maka ditanyalah pemimpin-pemimpin itu (tentang masalah keagamaan), kemudian mereka memberikan fatwa tanpa berlandaskan ilmu pengetahuan, sehingga mereka menjadi sesat dan menyesatkan orang lain.”

Fashal:Semua hal yang telah disebutkan di atas; yakni keutamaan ilmu dan orang yang memiliki ilmu, hanyalah hak ulama yang mengamalkan ilmunya, berkepribadian baik dan bertakwa yang bertujuan untuk memperoleh keridhaan Allah Swt., dekat di hadapanNya dengan mendapatkan surga yang penuh dengan kenikmatan. Bukan orang yang ilmunya dimaksudan untuk tujuan-tujuan duniawi seperti jabatan, harta benda atau berlomba-lomba memperbanyak pengikut. Telah diriwayatkan dari Nabi Saw., “Barangsiapa mencari ilmu untuk menjatuhkan para ulama, atau berdebat dengan para ahli fiqh atau bertujuan untuk memalingkan pandangan manusia, maka Allah akan memasukkannya ke dalam api neraka.” (HR. at-Tirmidzi).

Dan diriwayatkan dari Nabi Saw., “Barangsiapa mempelajari ilmu yang seharusnya dicari hanya karena mengharap ridha Allah, tetapi ia mempelajarinya untuk memperoleh tujuan-tujuan duniawi, maka ia tidak akan mendapatkan aroma surga.”

Juga diriwayatkan dari Nabi Saw., “Barangsiapa yang mencari ilmu karena selain Allah atau karena selain mencari ridha Allah, maka tempatilah tempat duduknya dari api neraka.”

Juga diriwayatkan Nabi Saw. bersabda,“Pada hari kiamatnanti akan didatangkan seorang alim, kemudian ia dilemparkan ke dalam api neraka sehingga ususnya terburai keluar dari perutnya, kemudian ia berputar-putar di dalam neraka laksana keledai yang berputar sambil membawa alat penggiling. Kemudian penduduk ahli neraka mengerumuninya sambil bertanya, “Apa yang menyebabkanmu seperti ini?” Ia menjawab, “Aku memerintahkan orang lain agar melakukan kebaikan, tetapi akusendiri tidak melakukannya dan aku melarang orang lain agar tidak melakukan perbuatan yang buruk, sementara aku sendiri melakukannya”.”

Diriwayatkan dari Bisyr Ra., “Allah Swt. memberikan wahyu kepada Nabi Dawud As., “Janganlah engkau jadikan antara Aku dan engkau ada seorang yang alim yang terfitnah, sehingga sifat takkaburnya (sombong) menjauhkan dirimu untuk mencintai Aku. Mereka itu adalah orang yang pekerjaannya menghadang hamba-hambaKu di tengah jalan”.”

Sufyan ats-Tsauri Ra. berkata, “Sesungguhnya ilmu itu dipelajari hanyalah agar bertaqwa kepada Allah Swt. Kelebihan ilmu atas ilmu yang lain hanya karena ilmu digunakan bertaqwa kepada Allah Swt. Jika tujuan ini menjadi cacat dan niat orang yang mencari ilmu menjadi rusak, dengan pengertian bahwa ilmu itu digunakan untuk mencapai perolehan hal-hal duniawi; berupa harta atau jabatan, maka pahala orang yang mencari ilmu itu benar-benar telah terhapus dan ia benar-benar telah dengan kerugian yang amat sangat.”

Fudhail bin Iyadh Ra. berkata, telah sampai kepadaku riwayat, “Sesungguhnya orang-orang fasiq dari golongan ulama dan para penghafal al-Quran nanti pada hari kiamat akan disiksa terlebih dahulu sebelum disiksanya orang-orang yang menyembah berhala.”

Hasan al-Bashri Ra. berkata, “Siksaan ilmu adalah matinya hati.” Kemudian ia ditanya, “Apa yang dimaksud dengan hati yang mati?” Ia menjawab, “Mencari harta dunia dengan menggunakan perbuatan-perbuatan akhirat.”[]

Tags: