Terjemah Kitab Adabul ‘Alim wal Muta’allim Karya Hadhratus Syaikh KH. M. Hasyim Asy’ari

Pustakamuhibbin.club ~ Kitab Adab al-‘Alim wa al-Muta’allim telah ditahqiq oleh almarhum Gus Ishomuddin Hadziq dan diterbitkan Maktabah Turats Pesantren Tebuireng tahun 1995. Kitab ini telah ditelaah dan mendapat taqridz atau endorsement dari ulama-ulama Timur Tengah, sebagaimana yang terlampir pada halaman 102-108. Mereka takjub atas kepandaian Kiai Hasyim dalam menyusun kitab tersebut. Bahkan oleh mereka, Kiai Hasyim dijuluki dengan berbagai macam gelar keilmuan seperti al-‘Alim (pintar) al-‘Allâmah (cendekiawan ulung), al-Fahhâmah (sangat memahami agama), Mursyid as-Sâlikîn ilâ Aqwam Tharîq (penuntun para murid kepada jalan yang benar).

Ulama tersebut diantaranya Syaikh Sa’id bin Muhammad al-Yamani, guru di Masjidil Haram dan Imam bermadzhab Syafi’i, Syaikh Abdul Hamid Sanbal Hadidi guru di Masjidil Haram dan Imam bermadzhab Hanafi, Syaikh Hasan bin Sa’id al-Yamani, dan Syaikh Muhammad Ali bin as-Sa’id al-Yamani. Ulama-ulama ini tentunya tidak main-main berkenan memberikan kata pengantar untuk kitab Kiai Hasyim.

Kiai Hasyim dalam kitabnya Adab al-‘Alim wa al-Muta’allim menulis delapan bab yang terdiri dari (1) bab keutamaan ilmu dan ahli ilmu, (2) bab adab murid kepada dirinya sendiri, (3) bab adab murid kepada gurunya, (4) bab adab murid kepada pelajarannya, (5) bab adab guru kepada dirinya, (6) bab adab guru kepada pelajarannya, (7) bab adab guru bersama murid, dan diakhiri dengan (8) bab adab kita kepada buku.

Muqaddimah

Segala puji milik Allah Tuhan semesta alam. Shalawat serta salam semoga tetap tercurahkan atas junjungan kita Nabi Agung Muhammad Saw., rasul termulia diantara para rasul Allah dan nabi penutup akhir zaman, juga atas para keluarganya yang bagus serta para sahabat beliau yang suci semuanya.

Amma ba’du, telah diriwayatkan dari Sayyidah Aisyah Ra. dari Rasulullah Saw. yang bersabda, “Hak anak atas orangtuanya adalah memberikan nama anaknya dengan nama yang bagus, memberikan air susu (menyusui) yang bagus kepada anaknya, dan memberikan didikan budi pekerti yang baik kepada anaknya.”

Diriwayatkan dari Ibnu Sirin Ra., ia berkata, “Para sahabat dan para tabi’in mereka semua mempelajari al-Huda (petunjuk), sebagaimana mereka mempelajari ilmu pengetahuan.”

Diriwayatkan dari Hasan al-Bashri Ra. yang berkata: “Bahwasanya seorang lelaki hendaknya keluar dari tempat tinggalnya untuk mendidik jiwanya dalam beberapa tahun hingga bertahun-tahun lamanya.”

Diriwayatkan dari Sufyan bin ‘Uyainah Ra. Bahwasanya, “Rasulullah Saw. itu merupakan timbangan yang agung. Pada pribadi beliau Saw. ditampakkan beberapa hal seperti budi pekerti, tindak-tanduk dan petunjuk-petunjuknya. Apapun perilaku yang sesuai dengan kepribadian beliau Saw. Maka itulah yang benar, sedangkan yang menyelisihinya maka itulah yang batil/tidak benar.”

Diriwayatkan dari Habib bin asy-Syahid, ia berkata kepada putranya, “Bersamalah engkau dengan orang-orang yang ahli fiqh dan pelajarilah budi pekerti dari mereka. Karena hal itu lebih aku cintai daripada engkau sekadar banyak mempelajari ilmu hadits.”

Ruwaim Ra. berkata, “Wahai anakku, jadikanlah ilmumu ibarat garam (yang tersebar di lautan) dan jadikanlah budi pekertimu ibarat tepung (yang berterbangan di daratan).”

Imam Ibnu al-Mubarak Ra. berkata, “Kami lebih membutuhkan adab (budi pekerti) meski sedikit dari ilmu meski banyak.”

Imam asy-Syafi’i suatu ketika pernah ditanya, “Bagaimana doronganmu terhadap budi pekerti?”

Beliau menjawab, “Aku mendengarkan perhuruf darinya, sehingga semua anggota tubuhku menjadi senang. Sesungguhnya seluruh anggota tubuhku mempunyai pendengaran yang bisa menikmatinya.”

Kemudian beliau ditanya lagi, “Bagaimana cara engkau mencari budi pekerti itu?”

Beliau menjawab, “Aku mencarinya ibarat seorang perempuan yang kehilangan anaknya, kemudian ia mencarinya sementara ia tidak mempunyai orang lain selain anak itu.”

Sebagian ulama berpendapat bahwa tauhid itu mengharuskan adanya suatu keimanan. Barangsiapa tidak beriman maka berarti ia tidak bertauhid. Iman juga mengharuskan adanya syariat. Barangsiapa tidak bersyari’at maka berarti ia tidak beriman dan juga tidak bertauhid. Syariat juga mengharuskan adanya budi pekerti. Barangsiapa tidak berbudi pekerti maka ia tidak bersyariat, tidak beriman dan tidak bertauhid.

Apa yang telah disampaikan oleh para nabi dan ulama semuanya merupakan ketentuan   yang sangat jelas, perkataan-perkataan yang dikuatkan dengan cahaya ilham yang mampu menerangkan tentang betapa luhurnya kedudukan budi pekerti, menjelaskan bahwa semua perbuatan yang bersifat keagamaan, baik yang bersifat bathiniyah maupun lahiriyah, ucapan maupun perbuatan, hal itu tidak akan dianggap sebagai amal kebaikan kecuali jika perbuatan tersebut dibarengi dengan budi pekerti yang baik, sifat-sifat yang terpuji dan akhlaq yang mulia. Karena menghiasi amal perbuatan dengan budi pekerti yang baik di waktu sekarang itu merupakan tanda diterimannya amal di saat nanti. Disamping budi pekerti yang baik sebagaimana dibutuhkan oleh pelajar ketika ia belajar, seorang guru juga membutuhkannya ketika sedang dalam proses belajar mengajar.

Ketika derajat adab sudah mencapai pada tingkatan ini, sementara ketentuan kriteria akhlaq secara detail belumlah jelas, maka apa yang aku lihat, yakni kebutuhan para pelajar akan budi pekerti dan susahnya mengulang-ulang untuk mengingatkan kesalahan adab mereka, telah mendorongku untuk mengumpulkan risalah ini sebagai pengingat pribadiku sendiri khususnya dan umumnya orang-orang yang memiliki wawasan minim.

Kemudian aku beri nama risalah ini dengan nama “Adab al-‘Alim wa al-Muta’allim”, semoga dengan risalah ini Allah memberikan manfaat dalam kehidupan ini dan setelah mati nanti. Sesungguhnya Allah adalah Dzat yang menguasai segala kebaikan. []

Tags: