Ulil Abshar Abdalla Now; Hijrah Spiritual dan Jadi Kiai

Pustakamuhibbin.club ~ Mas Ulil Abshar Abdalla yang sekarang adalah Mas Ulil yang tidak “segalak” seperti kali pertama saya kenal. Awal masuk pesantren, gus muda satu ini sudah jadi perbincangan galak di majelas kuyaha’ (perkumpulan para kiai).

Almarhum abah saya sewaktu menyaksikan Mas Ulil di gelanggang debat calon Ketua Umum PBNU, nyengir-nyengir mendengar ulasan yang mendayu-dayu dan tertata rapi, “Cah enom siji iki pancen ora dinyono-nyono (gus muda satu ini memang tidak bisa disangka-sangka).”

Abah, kebetulan, nyantri di Pati kepada dua mahaguru: KH. Abdullah Salam (Mbah Dolah) dan KH. Sahal Mahfudz. Selepas tujuh hari wafatnya Mbah Dolah, abah boyong ke Jepara, dan selang beberapa waktu menikahi ibu saya.

Jadi secara historis dan moral, kualitas kealiman kaum kuyaha’ (jamak dari kiai-red.) di Pati sudah sering saya dengar dari hikayat yang dikisahkan mendiang abah. Salah satunya tentu abahnya Mas Ulil. “Gus Dolah Rifai (abahnya Mas Ulil, KH. Abdullah Rifai) itu juga gurunya abah. Abah ngaji ilmu alat (nahwu-sharaf) pada beliau,” kenang abah suatu ketika.

Selain kepada almarhumah Cik Go Lan Fang, kepada Mas Ulil saya berguru (tentu secara in-absentia) cara berpikir runut dan menuangkannya dalam bentuk tulisan. Yang menarik dari Mas Ulil bukan pada gagasan liberal (dimana pada beberapa hal belum tentu saya tidak setuju), tapi “hijrah spiritual” yang ditempuhnya mirip seperti Imam al-Ghazali.

Imam al-Ghazali pernah menjadi guru besar di Universitas Nizamiah (kalau sekarang semirip Harvard atau Leiden University lah), dan beliau adalah rektornya. Kali pertama hati sang Profesor ini gelisah, dan meninggalkan dunia akademik. Bukannya berkarir, beliau malah memilih untuk menyendiri (khalwat).

Mentas dari semedi, Imam al-Ghazali kembali ke desa ia dilahirkan, Thus, dan menjadi “pengajar kampung” di sana. Dari sana lahirlah Ihya Ulumiddin, soko guru laku tasawuf di seluruh dunia dari dulu hingga sekarang.

Mas Ulil saya kira sudah kenyang dengan kegenitan akademik, yang pasti pernah dialami pula oleh Imam al-Ghazali. Mentas dari sana, Mas Ulil kembali “pulang ke halaman” (tidak secara harfiah, tentunya), dan memilih menjadi “guru kampung” yang mengajar kitab secara pretelan utawi-iki-iku yang sudah dibahasa-Indonesiakan. Bagi saya ini menarik.

Saya sempat mengalami fase kehidupan yang “genit ilmu”, tapi ada rasa bosan di sana. Bukan bosan karena ilmu, tapi lebih karena melahirkan polemik. Apakah Mas Ulil mengalaminya juga? Saya pun tak tahu.

Setiap Mas Ulil ngaji Ihya, saya kerap mengikuti. Kalaupun tidak real time, record-nya pasti saya tonton, sembari membuka Maktabah Syamilah. Kalau tidak sampai nonton, rasanya ada yang kurang. Kurang karena saya sudah tidak ngaji ala pesantren, dan lebih banyak melahap buku-buku sejarah (dan tips-trik beternak lele di rumah).

Kenapa saya tertarik dengan sosok Mas Ulil, ya karena abah saya adalah murid dari abahnya Mas Ulil. Secara genealogis, mungkin ini yang disebut Hadhratus Syaikh Hasyim Asy’ari sebagai “NU Azali”. Sejak dari jaman azali, hubungan guru-murid itu sudah mesra dan mau diapa-apakan pasti nyambung sampai anak turunannya. (Ditulis oleh: Gus Rumail Abbas)

Salah satu ngajinya silakan disimak:

Tags: