Kedekatan Bung Karno dengan Habib Ali Kwitang

Pustakamuhibbin.club ~ Dulu dikala Bung Karno bebas dari penjara Sukamiskin dijemput oleh sanak famili dan kawan karib, diantaranya adalah M. Husni Thamrin yang mengajak Bung Karno untuk tinggal di Batavia/Jakarta. Sewaktu tiba di Batavia Bung Karno diajak oleh Husni Thamrin menemui Habib Ali bin Abdurrahman al-Habsyi di kampung Kwitang. Di sana Bung Karno mendapat nasihat dan ikut pengajian Habib Ali baik di rumah maupun di Masjid Kwitang.

Saat Bung Karno sedang ikut hadir pengajiannya Habib Ali di Masjid Kwitang M. Husni Thamrin datang untuk menjemputnya guna menghadiri pertemuan dengan masyarakat Batavia. Lalu Bung Karno meminta ijin kepada Habib Ali untuk menghadiri acara tersebut. Dan Habib Ali pun mempersilakannya. Dengan masih bersarung Bung Karno menghadiri pertemuan tersebut didampingi M. Husni Thamrin.

Itulah permulaan dekatnya Bung Karno dengan Habib Ali bin Abdurrahman al-Habsyi Kwitang Jakarta.

Bulan September tahun 1944 Jepang menjajikan Kemerdekaan kepada Indonesia, sebagaimana tersiarkan di berbagai media pada waktu itu diantaranya Majalah Jawa Baru dengan Nomor Istimewa untuk memperingati perkenaan Indonesia Merdeka. Tepatnya tanggal 7 September 1944 Perdana Mentri Koiso mengeluarkan pernyataan: Indonesia akan diberi kemerdekaan di kemudian hari. Pernyataan tersebut di kemudian hari dikenal dengan “Janji Koiso”.

Di Koran Asia Raya pula ikut disiarkan tentang hal tersebut dengan menurunkan berita khusus yang berjudul “Indonesia Merdeka”. Namun di tahun 1945 –tepatnya di bulan Agustus tanggal 6 dan 9, Nagasaki dan Hirosima dibom oleh sekutu. Dan pada tanggal 15 Agustus 1945 Jepang menyerah tanpa syarat kepada sekutu. Dari situ apa yang dijanjikan menjadi tidak terlaksana.

Pada tanggal 16 Agustus 1945 terjadilah peristiwa Rengas Dengklok. Dimana Bung Karno dan Bung Hatta serta lainnya diamankan oleh para pemuda di Rengas Dengklok Karawang. Haji Darip dari Klender salah satu yang ikut pada waktu itu sempat mengusulkan agar para tokoh ditempatkan di tempat yang layak, karena waktu itu mereka ditempatkan di pinggir kali. Haji Darip mengusulkan kepada Sukarni dan kawan-kawan agar Bung Karno dan Bung Hatta ditempatkan di rumah yang layak dan akhirnya ditempatkan di rumah warga etnis Tionghoa yang bernama Djie Kiaw Siong.

Pada waktu itu ada perundingan antara Golongan Tua dan Golonga Muda dalam merumuskan dan menyusun teks Proklamasi yang berlangsung pada pukul 2 dini hari hingga pukul 4 menjelang waktu sahur. Teks Proklamasi ditulis di ruang makan Laksamana Tadashi Maida di Jl. Imam Bonjol. Setelah Sahur dan sesudah adzan Shubuh Bung Karno menyempatkan diri ke Kwitang dengan menyamar untuk menemui Habib Ali al-Habsyi guna memohon doa restu besok akan diadakan Proklamasi Kemerdekaan Indonesia di kediaman Bung Karno. Setelah mendapatkan doa restu Bung Karno secepatnya kembali ke kediamannya yang tak jauh dari rumah Habib Ali Kwitang.

Keesokan harinya Jum’at 17 Agustus 1945 bertepatan dengan 9 Ramadhan 1364 H jam 10 siang dibacakan teks Proklamasi oleh Bung Karno sekaligus pengibaran bendera Merah Putih yang dijahit oleh Ibu Fatmawati. Dua jam setelah Proklamasi tepatnya setelah salat Jum’at Habib Ali Kwitang kembali naik ke atas mimbar mengkabarkan kemerdekaan Indonesia serta menganjurkan pemasangan bendera warna Merah Putih. Hal tersebut langsung menyebar di Jakarta dan sekitarnya karena langsung disambut oleh seluruh masyarakat dengan mengibarkan bendera Merah Putih di kampungnya masing-masing.

Tahun 1961 ketika peresmian Masjid Baiturrahim Istana Negara di Jakarta, Bung Karno mengundang seluruh ulama dan habaib di Indonesia. Khususnya kepada Habib Ali bin Abdurrahman al-Habsyi Kwitang yang datang bersama para habaib Jakarta seperti Habib Ali bin Husein Alattas, Habib Salim Bin Jindan, Habib Muhammad bin Ahmad al-Haddad dan Habib Muhammad bin Ali al-Habsyi.

Setelah selesai prosesi peresmian tersebut, Presiden Soekarno meminta kepada para ulama untuk berfoto bersama di depan Istana. Di saat itu Habib Ali Kwitang tidak turut serta karena harus dipapah dan duduk di kursi sehingga diwakilkan oleh putranya, Habib Muhammad bin Ali al-Habsyi. Protokoler Istana diminta oleh Pak Karno untuk membujuk Habib Salim Bin Jindan untuk ikut berfoto. Namun Habib Salim menolaknya dengan alasan menemani Habib Ali Kwitang yang tidak ikut berfoto.

Pak Karno waktu itu tahu kalau Habib Salim masih tetap dalam pendiriannya tidak setuju atas Nasakom. Habib Salim berbicara di banyak tempat untuk menolak Nasakom. Bahkan Presiden Soekarno waktu itu mengirim utusan ke Habib Salim dan menanyakan sebabnya. Jawab Habib Salim, “Mana mungkin makanan yang nikmat dan halal bercampur dengan makanan yang najis dan haram. Maka makan yang halal tersebut menjadi haram. Walaupun nikmat rasanya tapi karena sudah bercampur dengan yang najis dan haram maka jadi haram semuanya.”

Perkataan tersebut juga dikatakan oleh Habib Salim Bin Jindan pada setiap pidatonya, untuk menentang Nasakom waktu itu. (Sumber: Ustadz Antoe Dzibril)

*Kisah kedekatan Bung Karno dengan Habib Ali Kwitang silakan simak di video ceramah Ustadz Antoe Dzibril ini:

Tags: