Habib Luthfi Bin Yahya; Meraup Hikmah dari Ujian yang Datang

Pustakamuhibbin.club ~ Begitu juga seperti si pedagang yang datang kepada ulama atau orang yang saleh. “Masa orang yang lewat tidak bisa lihat?”

“Iya, kayak tidak wajar, Kiai.”

“Lha tidak wajarnya bagaimana, apa orang itu kalau lewat tidak punya mata?”

“Ya punya mata, Kiai.”

“Lha iya, jangan begitu, jangan suudzan dulu. Memang belum rizkinya, jangan berperasangka buruk. Saya doakan. Ini dibaca munajat kepada Allah, insyaAllah nanti Allah Swt. akan membuka yang besar usahanya. Terima kehendak Allah nanti kamu dibuka.”

Bersih hatinya. Tapi kalau datangnya (kepada orang yang) salah, “Menurut hitungan saya ada yang membuat. Wajar!”

Ini datang husnudzannya untuk mengurangi dosa malah tambah dosa. Akhirnya si setan kulonuwun, tanpa salam masuk saja. Bayangannya muncul,‘khayaliyah’ yang dibawa nafsu dan setan.

Tapi kalau datangnya kepada orang yang saleh maka jawabannya seperti di atas tadi, “Sudahlah, mesin kendaraan itu kalau jalan terus tidak pernah dikir atau turun mesin, lambat atau cepat akan rusak. Makanya harus turun mesin dulu supaya diperbaiki menjadi baik, olinya dan lain sebagainya terkontrol dengan baik lalu dipasangkan lagi mesinnya. Mungkin sudah mendapat hasil yang baik maka nanti jalannya akan baik. Mari kita sekarang ini masih turun mesin dalam bidang ekonomi, insyaAllah mesinnya akan baik. Amin.”

Ridha itu di situ. Kalau kita menerima-ridha justeru kita ini lapang, lapang sekali, bersih dari perasangka-perasangka yang kurang terpuji. Itulah diantaranya makna ridha. Kalau para auliya, aduuuh bukan pangkat kita. “Allahummaj’alna minhum,”semoga kita menjadi orang yang seperti mereka (para wali Allah). Dan Allah Swt. memberikan kekuatan. Amin.

*Syaroni As-Samfuriy. Ditranskrip dari penjelasan Maulana Habib M. Luthfi bin Yahya kitab Jami’ al-Ushul fi al-Auliya’ bab Ridha (Menerima) terhadap Qadha Allah Swt. pada Pengajian Jum’at Kliwon Kanzus Sholawat Pekalongan 24 Februari 2017. Simak videonya:

Tags: