Habib Luthfi Bin Yahya; Cara Menggalang Persaudaraan dari Hidup sampai Mati

Pustakamuhibbin.club ~ Orang yang tulus, dalam kubur adalah yang mampu untuk menjawabnya, pasti akan mudah menjawabnya. Tapi kalau di dunianya ini tidak menggalang keukhuwahan/persaudaraan, kita sama kita tidak akur karena sesuatu dan lain-lainnya, sehingga banyak dari teman-teman menjauhi diri kita. Maka dari sebab itu ketika kita ditanya “Man ikhwanuka”, muamalah (perbuatan) tadilah yang akan menjawab. Tidak mampu akan menjawabnya, sebab menjawabnya sesuai jawaban ketika hidup di dunianya.

Tapi kalau orang yang lapang dada, banyak persaudaraan, banyak keukhuwahan, pasti akan menjawab ‘ikhwaniy’ dengan bangganya karena persaudaraan itu yang muncul. Dengan bangga dan senang akan menjawab, “Saudaraku adalah mu’min wal mu’minat, muslimin wal muslimat”.

Bahkan persaudaraan ini di dalam kematian, dimanapun saja, biasanya masih ada. Misal diantaranya dilontarkan oleh ahli waris, kalau tidak wakilnya, atau salah satu ulama untuk menyaksikan, “Ketahuilah para saudara-saudara, ini mayit baik ya?”

Spontan dengan kelapangan hati akan menjawab, “Baik” karena merasa kehilangan saudara, merasa teman yang baik hilang, dan orang itu tidak pernah suudzan. Walaupun terkadang pernah menyakiti, tapi tidak pernah melihat kejelekannya, selalu melihat kebaikannya. Meski jarang, insyaAllah ada.

Padahal ketika kita menyatakan “Baik”, logika bernalar, “Kita tahu perbuatan si A, kejelekannya kita tahu, sering melanggar apa yang dilarang oleh Allah Swt., seringkali kesurupan botol (isinya/miras), kita tahu bukan katanya. Tapi apapun beliau sudah meninggal, saudara kita ini, kita menyatakan baik.”

Baik di sini artinya ‘ma’fu’, memaafkan. Dengan itu akan meringankan beban di alam kuburnya terhadap seseorang yang meninggal. Dan ketika kita sadari telah menyatakan baik, akan menutup semua buku-buku hitam yang dimiliki oleh yang meninggal. Tutup buku, selesai, finish. Kita hanya mengatakan,“Allah yaghfir lahu, Allah yarhamuhu”.

Kalau mendengar orang yang meninggal tadi tidak baik, kita jawab, “Allah yaghfir lahu, Allah yarhamuhu”. Karena kita sudah menyatakan baik. Sudah tutup buku. Tapi terkadang kita kurang bijaksana ketika seseorang meninggalkan anaknya –atau dalam majelis karena kita lupa akhirnya menceritakan orang atau kebusukan orang yang sudah meninggal padahal sudah tutup buku kita menyatakan baik, tidak ada realisasinya. Kalau si A ini yang meninggal punya anak lelaki atau perempuan, paling tidak kalau kita sudah berani menyatakan baik, akan menolong regerenasi atau keturunannya.

Anaknya cantik atau ganteng, kebetulan ada yang mencintainya. Yang namanya orang lelaki atau perempuan yang normal ingin dibuai, disayang, disanjung, wajar namanya manusia normal. Ada seseorang yang mendengar, yang terkadang shahibul usil, datang dari rumah hanya ingin tahu. Tanya, “Nak, benar kamu atau bapaknya ini? Saya dengar katanya kamu mau meminang si A atau si Fulanah?”

“Iya, doakan saja.”

“Apa tidak ada perempuan lain!?” Nah inilah, padahal dia yang pernah menyatakan baik tapi tetap masih mengungkit almarhum atau yang sudah meninggal, masih dibuka sehingga mengorbankan kepada anak perempuannya.

Tapi bagi orang yang bijaksana menjawabnya ketika datang, “Mas, saya dengar katanya kamu anak lelaki yang ingin meminang si A.”

“Iya benar, kenapa?”

“Alhamdulillah, syukur, tolong titip, dibina dan dididik. Udahlah itu saja. Terimakasih sekali kalau kamu sampai ke sana, berarti luar biasa. Hebat kalau begitu.” Hilanglah shahibul usil kalau bisa begitu.

Ada lagi anaknya terkadang di pesantren. Karena ibunya baik, ibunya tidak mau anaknya meniru bapaknya (yang sudah meninggal) maka dipesantrenkan sambil sekaloh. Eh datang ke tempat kasepuhan atau yang pantas dituakan, begitu datang dia ditanya, “Lho dari mana Nak, kamu kok lama tidak kelihatan?” 

“Njeh Pak, saya sekarang di pesantren dan sekolah.”

“Bagus, luar biasa. Ini kampung memerlukan generasi muda seperti kalian untuk meneruskan. Bapak kan sudah tua, kan yang meneruskan nanti di pundak kalian. Jangan kayak Bapakmu!”

Ini namanya sudah diangkat lalu dibanting. Padahal orang itu ketika itu (meninggalnya si bapak anak tadi) telah menyatakan baik.

Orang yang bijak jawabnya akan lain (dari contoh di atas), “Di mana Nak? Saya dengar sekarang kamu di pesantren dan meneruskan sekolah di situ.”

“Iya Pak betul, doanya.”

“Jangan khawatir! Saya bangga, ingin mempunyai anak seperti kamu.”

“Lho kenapa Pak?”

“Karena kamu anak yang bisa mengangkat nama baik orangtua. Saya ingin kamu teruskan dan teruskan, sebab di kampung ini memerlukan orang-orang atau para pemuda seperti kalian.” Itulah hebatnya, jawabannya mantap.

*Syaroni As-Samfuriy. Ditranskrip dari penjelasan Maulana Habib M. Luthfi bin Yahya kitab Jami’ al-Ushul fi al-Auliya’ bab Ridha (Menerima) terhadap Qadha Allah Swt. pada Pengajian Jum’at Kliwon Kanzus Sholawat Pekalongan 24 Februari 2017. Simak videonya:

Tags: