Habib Luthfi Bin Yahya; Cara Menerima Qadha-Takdir Allah Swt.

Pustakamuhibbin.club ~ Bab ini sebenarnya sedang menerangkan tentang perjalanan ahwal para wali Allah. Dan kita sebagai orang awam turut belajar menerima/ridha apa yang dikehendaki (dan ditakdirkan) Allah Swt. Ridha tidak berarti meninggalkan ikhtiar. Ridha tetap di dalam perjalanan ikhtiar.

Misalnya dalam hari ini atau kapanpun, kita diberi oleh Allah sebuah kesulitan dalam mencari rizki. Karena timbul sabab-musabbab orang bisa menerima bukan masalah pribadinya saja, tapi karena ditangisi atau takut disalahkan oleh keluarga terutama istri, ibu anak-anak yang melihat keberadaan para anak-anak dalam segala kekurangannya untuk hari itu khususnya.

Protes selalu dilontarkan, bukan karena tidak menerima qadha tetapi karena sebab melihat putra-putrinya yang mana juga belum siap untuk menerima qadha (kehendak) Allah Swt. Bagi seorang suami menitikberatkan, “Alhamdulillah kita mendapat rizki hari ini walaupun kurang, cukuplah asal anak-anak kita tidak kelaparan”, dari hitungan segi materiil.

Karena keberadaan mencari sesuatu yang wajib untuk dijadikan nafkah keluarga maka pasang surut itu pasti ada. Surut terkadang sampai menipis (kritis), sehingga kita hampir saja mengeluh mendapatkan kesukaran ketika mencari rizki. Ini satu contoh, bukan sedang menceritakan tentang penyakit atau cobaan keluarga karena terlalu tinggi. Ini saja yang kaitannya dengan duniawi, hampir kita semuanya tidak ingin mengalami terkena gelombang tersebut.

Kita dididik untuk ‘menerima-ridha’. Kalimat ‘menerima-ridha’ sebetulnya untuk menjernihkan hati kita dahulu supaya setan tidak masuk ke dalam hati kita, lebih-lebih nafsu. Terus akal kita juga berputar, “Padahal saya tadi demikian-demikian, kok hebat yah tidak laku, apa sih sebabnya?” Untuk beberapa hari, maaf-maaf saja yang akan saya ucapkan karena sebetulnya saya tidak ada niat untuk menyinggung, ‘karena tidak ada pengajian yang menyinggung’. Di kitab itu sudah ada garis-garisnya, ketentuan-ketentuannya. Tapi maklum saja kalau kaki atau tangan ada bengkaknya biasanya kalau kena obat perih, padahal itu obat.

Maksudnya, karena tidak didasari ridha maka yang muncul adalah suudzan, perasangka dulu yang akan muncul. Misal saya punya dagangan. Toko saya sudah dibuka dari tadi, anehnya beberapa hari ini orang kok lewat saja seolah-olah di situ tidak ada toko atau barang dagangan saya. Satu kali masih belum kena goyangan hatinya. Dua kali masih lumayan. Tiga kali mulai datang ke kiai. Kalau tidak datang ke kiai datangnya ke dukun. Kalau ke kiai masih Alhamdulillah. Kalau dukunnya benar masih baik, seumpanya benar.

Begitu datang ke kiai, “Assalamu’alaikum.”

“Wa’alaikumussalam, silakan. Dari mana Bapak?” jawab kiainya.

“Dari sini…” jawab tamu.

“Alhamdulillah,” kalau orang shaleh, “Hari ini saya gembira Pak. Berarti saya menambah persaudaraan‘al-Mu’min akhu al-Mu’min al-Muslim akhu al-Muslim’. Kita punya kenalan baru saudara Muslim, Alhamdulillah. Semoga pertemuan perkenalan ini jangan sampai membawa mafsadat atau kerugian yang membawa dalam dunia ini sampai akhirat nanti. Semoga keukhuwahan kita terjalan sampai dunia-akhirat.”

“Kenapa begitu Kiai?” tanya tamu.

“Iya, kan kelak di kubur ditanya setelahman Rabbuka waman Nabiyyuka wama qiblatuka sampai waman ikhwanuka. Kan kita ditanya sama Allah Swt. dengan melalui malaikatNya Munkar dan Nakir,‘man ikhwanuka?siapa teman-temanmu?’. Pasti kita akan menjawab‘ikhwaniy mu’minin wal mu’minat wal muslimina wal muslimat’.”

Ridha itu di situ. Kalau kita menerima-ridha justeru kita ini lapang, lapang sekali, bersih dari perasangka-perasangka yang kurang terpuji. Itulah diantaranya makna ridha. Kalau para auliya, aduuuh bukan pangkat kita. “Allahummaj’alna minhum,”semoga kita menjadi orang yang seperti mereka (para wali Allah). Dan Allah Swt. memberikan kekuatan. Amin.

*Syaroni As-Samfuriy. Ditranskrip dari penjelasan Maulana Habib M. Luthfi bin Yahya kitab Jami’ al-Ushul fi al-Auliya’ bab Ridha (Menerima) terhadap Qadha Allah Swt. pada Pengajian Jum’at Kliwon Kanzus Sholawat Pekalongan 24 Februari 2017. Simak videonya:

Tags: