NU Bersama 13 Ulama Luar Negeri Deklarasikan Perdamaian Dunia

Pustalamuhibbin.club ~ Lembaga Dakwah Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (LD PBNU) menyelenggarakan Multaqa ad-Du’at al-‘Alami: Risalat as-Salam min Indonesia ila al-‘Alam (Pertemuan Dai Internasional: Risalah Perdamaian dari Indonesia kepada Dunia) di Lt. 8 Gedung PBNU. Pertemuan ini dihadiri oleh 13 ulama dari mancanegara; Syaikh Bilal Hallak dari Amerika, Syaikh Ahmad Yusuf dari Kolumbia, Syaikh Toriq Ghannam dari Libanon, Syaikh Bakr Abu Culleh dari Amerika, Syaikh Ibrahim asy-Syafi’i dari Australia, Syaikh Said Aboy Hammous dari Libanon, Syaikh Khalid Halabie dari Australia, Syaikh Muhammad Aukal dari Amerika, Syaikh Amjad Arafat dari Australia, Syaikh Muhammad Utsman dari Palestina, Syaikh Muhammad al-Faraj dari Libanon, dan Syaikh Umar Dayah dari Denmark.

Katib Aam PBNU KH. Yahya Qholil Tsaquf di depan 13 ulama mancanegara dan para hadirin menyampaikan bahwa Negara dan bangsa Indonesia didirikan oleh para pendahulu dengan cita-cita yang tidak hanya menyangkut nasib bangsa Indonesia sendiri saja. Negara dan bangsa Indonesia didirikan dengan cita-cita yang lebih mulia untuk peradaban seluruh umat manusia. Dalam Pembukaan UUD 1945 disebutkan, “Bahwa sesungguhnya kemerdekaan adalah hak segala bangsa. Dan bahwa segala bentuk penjajahan harus dihapuskan di atas dunia karena tidak sesuai dengan pri kemanusiaan dan pri keadilan”.

Selain itu, bangsa Indonesia juga didirikan dengan cita-cita untuk memperjuangkan ketertiban dunia, perdamaian abadi, dan keadilan sosial. Ini semua adalah pandangan-pandangan dan cita-cita yang diwariskan kepada kami warga nahdliyyin oleh para ulama dan para pendiri jam’iyyah ini.

Kita semua mewarisi ajaran-ajaran yang agung dari agama kita tentang kemuliaan akhlak, tentang keselamatan lahir batin, dunia akhirat, dan tentang kasih sayang pada sesama. Namun demikian, dewasa ini kita menghadapi keadaan yang membuat kita mengalami kesulitan-kesulitan di dalam memanifestasikan ajaran agung itu di hadapan umat manusia. Keadaan itu adalah maraknya konflik, pertentangan dan perang yang tak kunjung usai di berbagai wilayah di seluruh dunia, termasuk khususnya di negara-negara berpenduduk umat Islam.

Walaupun yang ramai dalam pemberitaan adalah konflik dan perang di wilayah-wilayah Islam, sesungguhnya ancaman dan pertentangan terjadi di seluruh dunia. Barat, yaitu Amerika dan Eropa misalnya, tidak lepas dari pertentangan dan konflik yang berpotensi bisa menghancurkan seluruh tatanan masyarakat. Negara Jerman setelah pemilu tidak mampu menyelesaikan pertentangan. Begitu juga Amerika Serikat, pemerintahnya terancam macet karena parlemen tidak mampu menghasilkan keputusan tentang anggaran negara.

Konflik dan pertentangan terjadi merata di seluruh dunia. Apabila tidak segera umat manusia cegah dan hadapi bersama-sama, bukan hanya umat Islam saja, tapi seluruh umat manusia agar mendapatkan jalan keluar dari konflik dan pertentangan ini. (Adanya konflik tersebut) maka yang terancam akan runtuh adalah seluruh peradaban umat manusia.

Risalah Perdamaian dari Indonesia Untuk Dunia

Pertemuan ini ingin memberikan pesan damai ke seluruh penjuru dunia dari Indonesia. Indonesia dikenal sebagai Negara yang memiliki ratusan suku, bahasa dan adat istiadat juga enam agama yang diakui oleh Negara. Nyatanya persatuan dan perdamaian masih bisa terjaga dengan baik. Walaupun Islam mayoritas di negeri ini, tapi tetap menjaga dan menghormati pemeluk agama dan penganut kepercaaan yang lain. Islam damai seperti inilah yang ingin kita sebarkan ke seluruh pelosok dunia.

Nahdlatul Ulama (NU) yang terus meneguhkan pesan Islam Nusantara adalah mengambil nilai-nilai ajaran agama yang terdiri dari tawasuth (moderasi), tasamuh(toleran), tawazun(berimbang). NU akan terus mendakwahkan Islam yang ramah, bukan Islam yang marah, dakwah yang merangkul bukan yang memukul, dakwah yang menyejukkan bukan yang menakutkan.

Pertemuan ini bertujuan untuk menegaskan dan meneguhkan hakikat Islam moderat (al-Islam al-wasathi), sebagaimana model Islam Nusantara yang dibangun oleh NU, serta menjalin kerjasama di antara ulama-ulama Ahlussunnah wal Jama’ah (Sunni) dari berbagai negara, untuk terciptanya perdamaian di seluruh dunia.

Pertemuan ini menghasilkan empat rekomendasi Risalah Perdamaian dari Indonesia untuk Dunia:

  1. Memperkuat pentingnya tolong-menolong dan memperteguh hubungan antara ulama madzhab Ahlussunnah wal Jama’ah di dunia.
  2. Memperkuat penyebaran dakwah Islam moderat ke penjuru dunia.
  3. Bersatu padu dalam kontra ekstremisme dan terorisme di semua tempat.
  4. Mendukung kemerdekaan Palestina dan mengembalikan Baitul Maqdis kepadanya serta menentang penjajahan di setiap negara.
  5. Memperkuat upaya bersama dalam mengadakan pertemuan dai di masa mendatang.

Hadir pula dari Pengurus Nahdlatul Ulama; Ketua PBNU KH. Abdul Manan Ghani, Rais Syuriyah PBNU KH. Ahmad Ishomuddin, Katib Aam PBNU KH. Yahya Cholil Tsaquf, Ketua Umum LD PBNU KH. Maman Imanul Haq, Sekretaris LD PBNU KH. Bukhori Muslim. (Dimoderasi dari NU Online).

Tags: