Menelusuri Sejarah Mbah Cenggini Ciptasari Ainul Yaqin Balapulang Tegal

Pustakamuhibbin.club ~ Kami bertiga, Syaroni, Zaki Mubarok dan Khoirul Atho, pukul 9 pagi menuju maqbarah Mbah Cenggini ditemani juru kunci makam Ust. Subkhi. “Adalah kesunnahan jika berziarah membawa bunga, bunga melati,” kata juru kunci. “Mbah Cenggini sukanya Tahlil dan Yasin,” lanjutnya.

Setengah jam kami tahlil dan doa di depan pusara Mbah Cenggini, lalu Ust. Subkhi yang juga ulama sesepuh Desa Cenggini mulai mengisahkan sejarah dan riwayat siapa Mbah Cenggini itu. “Mbah Ciptasari Ainul Yaqin Sunan Giri merupakan sahabat dari Pangeran Purbaya (Sayyid Abdul Ghaffar), merupakan putra dari Maulana Ishaq, keturunan ke-15* dari Rasulullah Saw.” Tutur juru kunci mengawali pembicaraannya.

Sebelum berdakwah Maulana Ishaq bertapa di Gunung Silangu Jogja. Ia dimandati berdakwah ke daerah yang belum ada Islamnya. Terdapatlah Ratu Helmina di Blambangan yang sangat kafir. Yang kemudian daerah itu menjadi tujuan dakwah dari Maulana Ishaq.

Suatu ketika Blambangan diberi balak dari Tuhan berupa penyakit wabah tha’un, hingga di desa yang ditempati sang Ratu hanya tinggal 8 orang. Diantaranya Dewi Sekardadu, cucu dari Ratu Helmina, juga terkena penyakit mematikan itu. Sang Ratu pun tak tinggal diam dan mencarikan seorang tabib atau dokter. Dengan janji jika sembuh ia akan dinikahi dengan Dewi Sekardadu. Tapi jika tidak sembuh, dokter akan dibunuh.

Datanglah dokter yang sombong menyanggupinya. Langsung ia dihadapkan ke sang Ratu. Dokter masuk selama satu jam di ruangan khusus. Setelah kamar dibuka ternyata Dewi Sekardadu masih sakit, dokter pun langsung dipenggal. Hingga tak ada satu dokter pun yang mau mengobatinya karena takut dibunuh.

“Carikan saja orang pintar, seseorang yang berpengetahuan tinggi dalam ilmu agama (kiai),” Pinta Ratu. Dicari ke pasar, kota, desa, tidak juga ditemukan. Ketika pergi ke gunung yang nampak bercahaya terang, yakni Gunung Silangu, didapatilah sosok bernama Syaikh Ishaq.

Melihat dan mendengar ada orang yang menghampiri Maulana Ishaq pun lalu turun. “Wahai kisanak, jangan takut. Saya bukan Jin, saya orang biasa. Ke mari, mungkin ada yang bisa saya bantu?”

Utusan Ratu itu bernama Baju Sangkar, menjawab, “Saya diutus Ratu Helmina, agar cucunya sembuh dari penyakit yang dideritanya. Siapa yang mampu menyembuhkannya akan dinikahkan dengannya dan diberi tanah yang luas. Yang penting dia hdup, sehat dan waras.”

“Saya bisa menyembuhkannya dengan sangat mudah. Namun dengan satu syarat Ratu mau masuk Islam,” jawab Syaikh Ishaq.

Ia pun dikawal utusan Ratu menuju Kerajaan di Blambangan. Sesampai di sana ia langsung dihadapkan ke Ratu Helmina dan menuju ruang Dewi Sekardadu. Ratu Helmina bersedia masuk Islam meskipun masih menolak untuk melaksanakan shalat fardhu. Hanya berselang setengah jam, dibukanya pintu kamar dan Ratu menyaksikan keajaiban cucunya sedang bercakap-cakap dengan Syaikh Ishaq dalam keadaan segar bugar.

Sesuai janji Ratu Helmina, Maulana Ishaq diberi tanah yang luas dan tanah itu dijadikan masjid, mushalla serta madrasah dan Dewi Sekardadu sebagai istrinya. Tak lama kemudian berbondong-bondonglah penduduk Kerajaan masuk Islam tanpa disadari sang Ratu.

Ketika Dewi Sekardadu hamil, Ratu Helmina mengancam akan membunuh si jabang bayi ketika ia lahir. Bayi itu kemudian diberi nama Raden Paku. Kata Syaikh Ishaq, “Kamu jangan khawatir, belilah peti yang bagus. Taruh bayi itu di dalam peti itu lalu buanglah ke sungai Ternate yang arusnya mengalir sampai ke Borneo dan Kalimantan.”

Selang beberapa waktu, ada perahu pedagang yang menemukan peti itu. Didapati di dalamnya bayi yang sangat mungil, tampan dan matanya bercahaya. Ia kemudian menyerahkannya kepada orang kaya yang tidak memiliki anak. Bayi itu lalu diberi nama Raden Samudera. Yang kemudian bayi itu diserahkan kepada Sunan Ampel untuk dipondokkan. Waktu itu jumlah santri Sunan Ampel 600 orang.

Anak kecil itu istimewa, berciri khas matanya yang mencorong atau bercahaya terang. Dialah Raden Samudera alias Raden Paku alias Ainul Yaqin alias Sunan Giri bin Maulana Ishaq. Karena keistimewaan yang luar biasa, ia akhirnya diambil menantu oleh Sunan Ampel dan juga oleh Raja Islam waktu itu.

Suatu hari Raden Paku pamit kepada Sunan Ampel, “Maaf Tuan, saya mau bersilaturrahim kepada teman senior saya, Pangeran Purbaya di Kalisoka Tegal.”

Ternyata Pangeran Purbaya sudah tahu Raden Paku akan mengunjunginya. Ia sengaja lama tidak mengunjungi teman dekatnya itu. Padahal Pangeran Purbaya adalah orang yang kaya raya, sedangkan Raden Paku tidak punya apa-apa. Ia sengaja mengerjai Raden Paku, “Biar dia yang ke sini sendiri.”

Sesampai di Kalisoka, ia disambit para pelayan Pangeran Purbaya, lalu dipersilakan masuk ke ruangan khusus yang di sana sudah ada nasi sepiring dan lauknya. Tanpa panjang pikir Raden Paku langsung memakannya namun hanya satu suapan.

Begitu Pangeran Purbaya pulang didapati nasinya sudah ada yang makan. “Siapa yang berani memakannya?!”

Pangeran Purbaya lalu jumpa dan disambut Raden Paku. Lalu Pangeran Purbaya dipersilakan makan nasi beserta lauk ikan, “Silakan dimakan, tapi jangan habiskan durinya.”

Pangeran Purbaya pun jengkel, ditawari makan tapi kok begitu. “Untuk apa coba duri dimakan?” gerutunya dalam hati.

Ternyata dari duri itu kemudian dibawa Raden Paku ke Cenggini lalu dilemparkan ke Balong (kolam) dan jadilah ikan yang beranak-pinak hingga sekarang. Ikan itu dikenal warga dengan nama ikan tambra. Sehingga nama Raden Paku dikenal dengan nama Ciptasari, karena mampu menciptakan ikan dari duri/tulang ikan. Sayangnya kondisi Balong Ikan Tambra itu saat ini kondisinya kurang terawat, nampak banyak sampah di dalamnya.

Hingga sekarang tradisi silaturrahim keluarga Kalisoka Adiwerna ke Cenggini Balapulang masih berlangsung setiap acara Haul Mbah Cenggini. Haulnya sekarang diubah setiap tanggal 5 Syawal, meskipun Raden Paku wafat di bulan Maulid, karena menyesuaikan kondisi warga yang kebanyakan merantau dan bisa kumpul di bulan Syawal (Lebaran).

“Jika ke Balong Ciptasari bawalah mentimun yang dirajang-rajang, lalu taburlah ke kolam itu untuk dimakan ikan. Ikan Mbah Cenggini itu konsumsinya seperti manusia, daging dengdeng pun biasa ada yang memberikan.” Tutur Ust. Subkhi mengakhiri obrolan kami.

Balong atau kolam itu ditandai dengan tulisan ukiran tembok “Ulam Tambra Ciptasari”. Balong itu jaman dulu menjadi tempat musyawarah para ulama dan pendiri Tegal seperti Ki Gede Sebayu, Pangeran Purbaya dan Mbah cenggini Ciptasari.

Kisah di atas sepenuhnya bersumber dari informan juru kunci, terlepas dari benar dan tidak sesuai kajian pihak lain. Dan juru kunci makam Bpk. Ust. Subkhi merupakan keturunan Mbah Cenggini dari jalur ayah, sudah berusia 75 tahun. Wallahu a’lam. (Sya’roni As-Samfuriy, 21 Januari 2018).

*Catatan penulis:

Silsilah dan sekilas sejarah Sunan Giri putra Maulana Ishaq alias Ki Supo alias Pangeran Sendang Sedayu berikut adalah versi Kitab Kuno Sunan Tembayat 1443 saka. Sunan Giri adalah nama salah seorang Walisongo dan pendiri kerajaan Giri Kedaton, yang berkedudukan di daerah Gresik, Jawa Timur. Sunan Giri membangun Giri Kedaton sebagai pusat penyebaran agama Islam di Jawa, yang pengaruhnya bahkan sampai ke Madura, Lombok, Kalimantan, Sulawesi, dan Maluku. Sunan Giri memiliki beberapa nama panggilan, yaitu Raden Paku, Prabu Satmata, Sultan Abdul Faqih, Raden ‘Ainul Yaqin dan Joko Samudro. Lahir di Blambangan tahun 1442 dari Putri Blambangan yang dinikahi Ki Supo yang berganti gelar sebagai Pangeran Sendang Sedayu dan lebih dikenal dengan nama Maulana Ishaq. Sunan Giri dimakamkan di desa Giri, Kebomas, Gresik, Jawa Timur.

  1. Nabi Muhammad Saw.
  2. Fatimah az-Zahra
  3. Sayyidina Husain bin Ali bin Abi Thalib
  4. Sayyidina Ali Zainal Abidin bin
  5. Sayyidina Muhammad al-Baqir bin
  6. Sayyidina Ja’far ash-Shadiq bin
  7. Sayyid al-Imam Ali Uradhi bin
  8. Sayyid Muhammad an-Naqib bin
  9. Sayyid ‘Isa Naqib ar-Rumi bin
  10. Imam Ahmad al-Muhajir bin
  11. Imam Ubaidillah bin
  12. Imam Alawi al-Awwal bin
  13. Imam Muhammad Shahibus Shaumi’ah bin
  14. Imam Alawi ats-Tsani bin
  15. Imam Ali Khali’ Qasam bin
  16. Imam Muhammad Shahib Mirbath (Hadhramaut)
  17. Imam Alawi Ammil Faqih (Hadhramaut) bin
  18. Sayyid Amir Abdul Malik al-Muhajir (Nasrabad, India) bin
  19. Sayyid Abdullah Al-Azhamatu Khan bin
  20. Sayyid Ahmad Shah Jalal/Ahmad Jalaludin Al-Khan bin
  21. Sayyid Syaikh Jumadil Kubra/Jamaluddin Akbar Al-Khan bin
  22. Sayyid Maulana Malik Ibrahim Asmoroqandi/Syaikh Syamsu Tamres bin
  23. Sayyid Maulana Ishaq bergelar Pangeran Sendang Sedayu Blambangan bergelar Ki Supo ketika di Majapahit bin
  24. Sayyid Ainul Yaqin/Sunan Giri

Tags: